Berita

Intan Fauzi: Saya Dekati ‘Swing Voters’ Melalui Program Intanpreneurship

Intan Fauzi: Saya Dekati ‘Swing Voters’ Melalui Program Intanpreneurship

Pesta demokrasi 5 tahunan rakyat Indonesia tinggal menghitung hadir. Sejumlah dinamika terus mewarnai perkembangan kancah politik Indonesia menjelang detik-detik pemilu 17 April 2019 nanti. Salah satu isu krusial dan penting yang menjadi perhatian para politisi partai dan publik adalah meningkatnya pemilih mengambang (swing voters) dalam pemilu 2019 ini.

Sejumlah penelitian menunjukkan angka swing voters ini masih tinggi dengan prosentase 34.6 persen. Dan kelompok pemilih muda atau pemula mendominasi swing voters.

Bagi Caleg DPR RI dari Partai Amanat Nasional (PAN), Hj Intan Fauzi, SH, LL.M penyampaian program kerja menjadi salah satu cara untuk memikat pemilih potensial tersebut, disamping melakukan penetrasi lansung ke tengah masyarakat.

Tak hanya itu, Caleg Dapil Jabar VI Nomor Urut 2 ini juga melakukan edukasi politik agar generasi milenial ini  menggunakan hak pilihnya dengan baik. Sebab, satu suara sangat menentukan bagi perjalanan bangsa ini kedepan.

Selain itu, Intan yang juga Ketua DPP PAN ini mengedukasi anak zaman now ini agar menyiapkan diri memasuki pasar kerja setelah lulus sekolah nanti. “Nah di sekolah-sekolah, kampus-kampus, saya memperkenalkan wirausaha melalui program Intanpreneurship. Jadi, sebelum masa kampanye dan sebelum caleg-caleg lain turun, saya sudah menggarap generasi millennial ini,” jelasnya.

Lalu apa saja kiat Hj Intan Fauzi, SH, LL.M merayu pemilih mengambang serta pemilih apatis yang jumlahnya masih tinggi agar menggunakan hak pilihnya? Berikut perbincangan bersama Anggota Komisi V DPR RI ini disela-sela Kunjungan Kerjanya ke Kota Bekasi beberapa waktu lalu.

 

Sebenarnya, bagaimana pola kampanye yang ibu Intan terapkan guna meraih suara?

Melihat karakter kota Bekasi dan Kota Depok maka kualitas diri caleg itu menjadi factor penentu. Jadi decision makernya adalah dirinya sendiri (caleg). Karenanya, one man one vote sangat berlaku di Kota Bekasi dan Kota Depok ini. Walaupun mereka terkelompok dalam bentuk majelis taqlim, karang taruna dll disamping komunitas profesi. Dan yang paling penting adalah personal approach (pendekatan pribadi). Makanya mau tidak mau, kita harus turun langsung ke basis-basis atau ke kantong-kantong pemilik suara ini. Dan itu yang saya lakukan selama ini. Saya menjadikan komunitas sebagai pintu masuk saat berkampanye.

Tak hanya komunitas. Generasi Millenial juga kita garap melalui kegiatan entrepreneur atau apa yang saya sebut Intanpreneurship. Tujuannya, mengedukasi generasi jaman now ini bagaimana berusaha sehingga membuka lapangan kerja. Bukan hanya mencari lapangan kerja tetapi membuka lapangan usaha baru bagi generasi millennial ini. Sehinggga pada gilirannya membuka lapangan kerja baik bagi dirinya maupun orang lain.

Kebetulan saya anggota Komisi V DPR maka banyak program infrastruktur yang saya gelontorkan di Dapil saya. Misalnya, perbaikan rumah tidak layak huni (Rutilahu), pembangunan-pembangunan yang sifatnya community development seperti jembatan gantung yang bisa menghubungan satu daerah dengan daerah lainnya.

 

Dalam merawat basis, tentu banyak sekali tantangannya. Sulit nggak sih bu merawat konstituen atau masa di Dapil?

Insya Allah tidak. Sejak 2014 hingga kini, saya terus membina hubungan baik serta menjalin komunikasi dengan basis-basis saya. Misalnya, saat hari besar agama atau saat acara 17 Agustus, silaturahmi tetap jalan terus. Dan sekarang Daftar Calon Tetap (DCT) mereka tahu kalau saya maju lagi di 2019 ini. Dan Alhamdulilah mereka mendukung saya.  Dukungan itu tidak berubah dan saya tinggal memperkenalkan diri lagi. Apalagi, dapilnya tetap sama, partainya tetap sama yaitu tetap lewat PAN. Saya kan bukan politisi kutu loncat. Saya berpartai melalui PAN saja. Dan saya menyadari betul merawat konsituen ini sangat penting karena merekalah pemilik suara.

 

Meski kontestasi pileg ini berlangsung JURDIL, tetapi namanya praktek kecurangan atau manipulasi suara tetap rawan terjadi. Apakah ibu Intan punya tim khusus untuk mengawal hasil suara?

Tentu saya sudah bentuk tim pemenangan dan tim khusus untuk itu. Kalau soal kampanyenya sendiri, saya yang turun door to door untuk mengetuk hati pemilih. Saya dibantu oleh tim pemenangan saya yang kebetulan orang Depok dan orang Bekasi. Tim pemenangan saya sudah terstruktur hingga tingkat RT/RW. Termasuk dengan relawan pendukung Intan seperti Sahabat Intan, Kopi Intan, Relawan PASTI dll.

 

Selain perang darat, perang udara juga penting. Apakah bu Intan sudah mengantisipati perang udara ini?

Semua sudah diantisipasi. Sebab secara fisik, sangat tidak mungkin menjangkau semua wilayah yang ada di Kota Depok dan Kota Bekasi yang sangat luas sekali. Di Kota Bekasi ada 12 Kecamatan dan 56 Kelurahan, sedangkan di Kota Depok ada 11 Kecamatan dan 63 Kelurahan. Untuk menjangkau semua wilayah itu maka diperlukan perang udara. Perang udara ini saya lakukan melalui sosmed, aplikasi termasuk publikasi berita melalui teman-teman pers.

 

Dari hasil pemetaan, tentu tidak semua wilayah ada pemilih fanatik ibu Intan. Bagaimana cara ibu merayu pemilih yang belum jatuh hati ke ibu Intan?

Sebenarnya, saya sudah membuat pemetaan (mapping) soal potensi suara saya di wilayah, baik itu Kota Bekasi dan Kota Depok mulai RT hingga RW. Saya akui, swing voters di kedua daerah ini masih tinggi. Itupun saya garap untuk menambah suara. Saya terus berusaha meyakinkan mereka betapa berharganya satu suara bagi perjalanan bangsa ini kedepan.

 

Berbicara soal swing voters, angkanya masih tetap tinggi. Bagaimana strategi untuk meraih simpati swing voters yang kebanyakan berasal dari generasi millenial?

Terus terang, keberpihakan saya terhadap generasi millennial sangat tinggi dan tidak perlu diragukan lagi. Sebelum masa kampanye, saya melakukan safari ke sejumlah sekolah SMA dan SMK, termasuk ke beberapa universitas. Saya melakukan edukasi politik agar mereka mau menggunakan hak pilihnya dengan baik. Ingat, satu suara sangat menentukan bagi perjalanan bangsa ini kedepan. Selain itu, saya juga mengedukasi mereka agar menyiapkan diri memasuki pasar kerja setelah lulus sekolah nanti.  Termasuk saya juga mengkampanye gerakan anti narkoba kepada generasi millennial ini. Nah di kampus-kampus, saya memperkenalkan wirausaha melalui Intanpreneurship. Background saya memang pengajar mata kuliah Hukum Ekonomi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) dan wirausahawan. Jadi, sebelum masa kampanye dan sebelum caleg-caleg lain turun, saya sudah menggarap generasi millennial ini.

Anggota Komisi V DPR, Hj Intan Fauzi, SH, LL.M terus mendekati pemilih mengambang (swing voters) agar menggunakan hak pilihnya dalam pileg 17 April 2019

Selain swing voters, persoalan dalam setiap pemilu adalah sikap pemilih yang apatis. Bagaimana menyakinkan pemilih yang apatis ini?

Saya melakukan penetrasi ke masyarakat. Dalam setiap kali tatap muka, saya selalu bertanya soal animo masyarakat dalam setiap pemilu. Saya selalu merujuk angka pastisipasi masyarakat saat pemilukada Kota Bekasi, pemilukada Kota Depok dan Pilgub Jabar, termasuk pileg dan pilpres yang lalu. Dan alhamdulilah, rata-rata partisipasi masyarakat mencapai 80 persen. Artinya, animo masyarakat terhadap pemilu masih tinggi. Namun kita terus menyakinkan pemilih atau masyarakat agar menggunakan hak pilihnya sehingga angka partisipasi pemilih bertambah. Untuk itu, saya inilah tugas para caleg dan caleg harus turun ketengah masyarakat memperkenalkan profil dan visi misi caleg. Karena rata-rata keluhan dari masyarakat adalah banyak caleg yang tidak turun. Dampaknya, masyarakat tidak banyak tahu tentang profil caleg. Dan inilah yang menyebabkan masyarakat apatis lantaran tidak tahu caleg mana yang akan dipilih.

Masyarakat kita sekarang sudah cerdas. Mereka harus tau profil caleg agar mereka tidak membeli kucing dalam karung. Bayangkan, Kota Depok dan Kota Bekasi hanya diwakili oleh 6 orang anggota DPR dari total jumlah penduduk yang hampir mendekati 7 juta jiwa. Dalam memperkenalkan profil tergantung kreatifitas masing-masing caleg. Yang pertama, mereka harus hadir di masyarakat. Kedua melalui instrument social media.

 

Pembangunan infrastruktrur sangat masiv di era pemerintahan ini. Ibu Intan yang juga berada di Komisi V (Komisi infrastruktur) tentu menaruh perhatian yang begitu besar terhadap infrastruktur di Kota Bekasi dan Kota Depok. Bagaimana perhatian ibu terhadap pembangunan infrastruktur?

Untuk infrastruktur dasar, memang sudah menjadi kewajiban pemerintah pusat. Artinya, pemerintah harus menyediakan infrastruktur dasar yang memadai. Hal ini penting guna mendongkrak kegiatan serta roda perekonomian masyarakat

Harus diakui, kemampuan APBD Kota untuk menyediakan infrastruktur sangat terbatas. Anggaran pemerintah kota hanya mampu membiayai infastruktur di wilayah kota, RT dan RW yang cakupannya terbatas. Sehingga perlu ditopang oleh APBN guna menghubungkan satu kota dengan kota yang lainnya.

Kemudahan akses dan konektifitas merupakan salah satu prasyarat yang bisaa mengdongkrak ekonomi masyarakat yang pada ujungnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Misalnya, kemudahan dalam akses barang dan jasa antara kota. Jika infrastruktur baik maka sangat mudah mendapatkan barang yang dibutuhkan masyarakat.

Kota Bekasi dan Kota Depok sangat diuntungkan. Pembangunan infrastrukturnya sangat baik dan menjadi perhatian utama pemerintah. Namun perlu dikaji kembali. Artinya, infrastruktur dasar harus menjadi perhatian pemerintah. Selebihnya, tentu kita libatkan swasta dan partisipasi masyarakat dalam membangun sehingga beban biaya pembangunan itu tidak tinggi membebani utang APBN.

 

Terkait, indikasi penyelenggara pemilu ikut bermain dalam kemenangan seorang caleg. Langkah antisipasi yang dilakukan mencegah penyelenggara pemilu yang nakal ini bagaimana?

Saya kira, UU Pemilu sudah sangat ketat dan komprehensif mengatur semua itu. Kita punya Panwaslu, Bawaslu dengan peran masing-masing yang bisa mencegah praktek kecurangan itu. Binmas dan Polres juga dilibatkan dalam melakukan pengawasan terhadap penyelenggara pemilu selama kampanye. Dalam konteks Kota Bekasi dan Kota Depok, masyarakat juga ikut memantau pelaksanaan pemilu sehingga asas JURDIL itu benar-benar terwujud. Dan saya yakin, 96 orang Caleg DPR RI dibantu peran masyarakat ikut andil dalam menciptakan pemilu yang bersih.

 

Melihat aktifitas ibu Intan yang sangat padat sekali, bagaimana respon keluarga?

Keluarga saya, suami dan anak-anak, sudah sangat paham dengan aktifitas saya. Mereka sangat mendukung. Suami saya Dokter dan pengajar  di RSCM dan Fakultas Kedokteran UI, yang sangat sibuk juga. Kami sudah terbiasalah. Tetapi ditengah kesibukan,  kami saling mendukung. Keluarga bagi kami berdua diatas segala-galanya. Dan dukungan keluarga ini sangat besar artinya bagi perjalanan karier politik saya.

BAGIKAN:

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.